Asam Manis Jadi Sutradara

May 31, 2017

Foto bersama panutan q @RaviFaatih yang paling banyak membantu saat syuting

Sekitar 2 tahun yang lalu, Kancut Keblenger bikin challenge bagi siapa saja buat nulis selama sebulan penuh, kayak puasa. Setiap minggu ada temanya, salah satu temanya adalah apa yang kamu pengin lakukan/coba/cita-cita kamu ke depan, atau beberapa tahun ke depan, salah satu tulisan saya adalah pengin jadi seorang sutradara.

Entah apa yang mendasari saya punya cita-cita seperti itu, yang jelas di kepala saya jadi seorang sutradara adalah sebuah jobdesc yang keren, bisa nyuruh-nyuruh orang kayak pembantu, yha kalo otaknya dangkal pemikirannya jadi gitu.

Ini link tulisannya kalo mau baca. Action#1Day1Dream

***

Lagi-lagi setiap kali saya nulis tentang kuliah, pasti saya bakal trackback biar yang baca ngerti.

Saya ini adalah seorang mahasiswa ilmu komunikasi. Di kampus saya, kebetulan juga setelah masuk ilmu komunikasi ada penjurusannya lagi, ada jurnalistik, ada audio visual dan public relations.

Saat pertama kali masuk ilmu komunikasi saya pengin banget masuk jurnalistik karena mau belajar nulis yang baik. Setelah 2 tahun kuliah, apa yang saya cari di jurnalistik sepertinya sudah terpenuhi di salah satu UKM yang saya ikuti. Saya merasa butuh tantangan baru biar keluar dari zona nyaman. Yha, setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya saya memutuskan untuk masuk penjurusan audio visual. Bagi yang belum tahu, kebanyakan mata kuliah di audio visual ini yaitu memvisualkan sesuatu. Dari tulisan menjadi bentuk visual atau dari sebuah konsep menjadi visual. Gitu.

Setelah memutuskan masuk audio visual, di semester 5 kemarin, tugas praktikumnya adalah membuat sebuah film. Kemarin juga, saya udah nulis itu di postingan sebelumnya. Di praktikum semester 5 kemarin saya kebagian jobdesc jadi seorang scriptwriter, salah satu cita-cita yang pengin saya geluti. Praktikum satu kemarin selesai dengan begitu banyak rintangan, akhirnya masuklah ke praktikum dua di semester 6 ini.

***

Kondisi kelompok saat praktikum satu kemarin sudah nggak bisa diperbaiki lagi, ada konflik internal yang nggak bisa dihindari, akhirnya kami semua memutuskan untuk bubar. Untuk menempuh praktikum 2, semua praktikan harus punya kelompok, di tengah-tengah kebingungan mencari kelompok, salah satu teman mengajak saya untuk bergabung dengan kelompoknya. Tanpa pikir panjang saya langsung memutuskan untuk join.

Dari sinilah semuanya dimulai.

***

Nggak ada yang bisa lepas dari cengkaraman instagram, berjam-jam di hari libur, pasti saya habiskan untuk membuka aplikasi tersebut, nggak upload foto, hanya scroll up dan scroll down untuk melihat foto teman-teman yang sedang liburan di pantai, di gunung dan atau hanya sekedar liburan di rumah.

Libur selama satu bulan itu saya memutuskan untuk nggak pulang kampung, selain liburnya terlalu singkat, biaya untuk pulang dan kembali juga menjadi perhitungan.

Sebuah pesan masuk dari direct message di Instagram, pesan tersebut datang dari salah seorang follower saya, namanya @rahmaniasantoso Dia adalah seorang produser salah satu kelompok atau production House yang bernama Sawang Sinawang Films. Entah dia mimpi apa semalam tiba-tiba mengirim sebuah pesan mengajak saya untuk gabung dengan kelompoknya. Seperti yang saya bilang di atas, saya langsung menerimanya.

FYI aja, di praktikum sebelumnya (Produksi Film) Sawang Sinawang Films dapet beberapa penghargaan, salah dua yang saya ingat adalah  sound terbaik dan art terbaik, jadi such an honour bisa diajak bergabung sama mereka.

Akhirnya setelah melewati sumpah jabatan, saya resmi menjadi anggota Sawang Sinawang Films. semua proses kami jalani bersama, total ada tujuh orang dalam satu kelompok. Ada Oca sebagai produser, ada saya sendiri sebagai sutradara (anak baru), ada Fania sebagai asisten sutradara (anak baru juga), ada Ravi sebagai Departement Of Photography dan Editor, ada Arif Sebagai Gaffer (Lighting-man) ada Kurni  sebagai soundman, dan yang terakhir ada Kika sebagai art director.

Sejak jobdesc ditentukan saya sudah deg-degan, belum siap dengan kenyataan yang saya hadapi. Selain belum pernah jadi sutradara, dipercaya sebagai sutrdara juga jadi beban tersendiri karena masih anak baru. Walaupun begitu, ada sebuah rasa siap di dalam dada, anjir apaan.

Nggak gitu, setelah diberikan jobdesc itu, saya merasa ada tantangan lain yang bisa membuat saya keluar dari zona nyaman.

I will accept this challenge. My soul bergemuruh. *Blubuk-blubuk*

Sebelum memasuki masa produksi atau masa syuting, kami semua, bertujuh, sibuk mencari klien kesana kemari, dari ujung timur sampai ujung barat. Dari musim rambutan hingga musim durian. Semua kami lalui dengan tabah (oke ini sedikit dramatisir sih). Setelah beberapa waktu mencari,  kami mendapatkan klien yang mau bekerjasama dengan Sawang Sinawang Films, yaitu Telkomsel Malang.

Begitu mendapatkan klien, kami mempersiapkan satu persatu, yang paling awal kami persiapkan adalah konsep. Ini yang paling banyak memakan waktu, karena bersangkutan sama apa yang akan kami bawa ke tahap produksi. Menentukan konsep ini nggak bisa sehari dua hari, bisa seminggu lebih. Dengan proses brainstorming dan perdebatan yang nggak kunjung selesai, akhirnya kami membawa 3 konsep plus storyboard ke pitching pertama di hadapan klien dan dosen.

Dredeg.

Akhirnya, setelah pitching kurang lebih sekira 30 menit, kami keluar dengan membawa satu konsep matang yang akan digiring ke produksi nanti, hari-hari syuting semakin dekat.

Sebelum syuting, kami mengadakan rapat beberapa kali, untuk mematangkan konsep tadi. Selain itu, kami juga mencari talent dan lokasi untuk iklan layanan masyarakat yang akan kami buat.

Proses pencarian talent juga nggak gampang, stalking instagram adalah koenci. Setelah ribuan akun kami telusuri, akhirnya kami mendapatkan talent, yang sesuai dengan konsep. Seorang cowok yang kata crew cewek ganteng banget, nama Ojan dan seorang ibu-ibu yang punya salon (lupa namanya).

Masalah lokasi, kami mendapatkan lokasi yang jaraknya dari satu lokasi ke lokasi lain lumayan jauh. Ada yang dekat dengan kampus, ada juga yang jauh. Tapi nggak masalah yang penting syuting lancar.

Konsep matang, talent dan lokasi sudah ditemukan. Waktunya sewa alat. Yha, kami harus nyewa alat untuk syuting, dan itu nggak murah. Mau gimana lagi, dari kami nggak ada yang punya alat wah untuk syuting sesuai standar persutingan, tapi nggak masalah yang penting syuting lancar.

Semua alat dikumpulkan jadi satu di rumah Kurni, begitu juga dengan crew. Kami semua nginep di rumah Kurni dengan tujuan meminimalisir waktu yang dibutuhkan saat syuting, agar gampang koordinasi juga. Malam sebelum syuting, kami briefing untuk kelancaran syuting besok.

D-day.

Hari yang dinanti tiba, hari pertama syuting. Kami semua mempersiapkan apa saja yang akan dibawa ke lokasi pertama, mulai dari alat-alat yang digunakan hingga properti apa saja yang diperlukan.

Sampai di lokasi pertama, kami nggak langsung syuting, ternyata ada beberapa hal yang terlupakan, termasuk properti yang paling dibutuhkan, untung saja semuanya masih sempat disiapkan.

Setelah semuanya siap, giliran DOP dan sutradara mengambil posisi. Tambah deg-degan. Shoot pertama di lokasi ini, saya kebingungan. Benar-benar bingung. Sebenarnya shoot apa yang akan diambil ketika syuting sudah dibuat ketika pra produksi, tapi biasanya rencana dan kenyataan di lokasi syuting itu sering berbeda, jadi sutradara harus memutar otak dan harus mengambil keputusan yang cepat kalau dapat kondisi seperti ini.

Tapi, yang saya lakukan malah sebaliknya. Untuk satu shoot tersebut, saya malah memikirkannya lebih dari 30 menit. Di pikiran saya waktu itu hanya satu, kalo saya ambil shoot tersebut apakah nanti iklannya akan bagus atau nggak.

Selain hal itu, yang menjadi pertimbangan lain adalah backlight, dalam iklan yang akan kami buat, waktu yang ingin kami tampilkan adalah sore ke malam. Tapi waktu itu kami syuting pagi-siang, jadi kami nggak boleh memberi tahu penonton kalo itu syutingnya siang. Jadi sutradara lagi-lagi harus pandai-pandai memutar otak, apesnya saya nggak bisa melakukan itu.

Tapi untung saja DOP panutan q, memintaku untuk segera bertindak, jadi mau nggak mau, shoot yang sudah saya pikirkan harus dipakai.

Nah, Point pertama yang harus kamu perhatikan kalo mau jadi seorang sutradara adalah, kamu harus bisa cepat mengambil keputusan, harus tegas!

Setelah shoot itu selesai, beberapa shoot selanjutnya bisa diambil dengan lancar jaya. Shootiing di lokasi pertama sampai siang. Selepas itu, kami berencana melanjutkan syuting ke lokasi selanjutnya tapi, karena sutradara yang maha Agung tidak mengizinkan (re: Tuhan) karena hujan, maka syuting hari itu tertunda. Nggak tertunda sih sebenarnya, ada satu scene lagi yang harus di take di malam hari, jadi kami lanjut lagi.

Yang manarik dari shooting di lokasi kedua ini adalah syuting dengan talent yang baru pertama kali syuting. Ya ibu-ibu salon baru pertama kali syuting, jadi untuk directnya agak susah.

Si ibu-ibu salon ini agak susah didirect karena kalo dia di depan kamera, dia jadi kaku. Kalo kamera udah off, yha beliau akan sangat ceriwis. Sempat take beberapa kali tapi setelah dilihat ketika post production, acting si ibu masih tetep aja kaku.

Kesalahannya di sini adalah saya sebagai sutradara kurang saat proses reading. Mau gimana lagi sih, soalnya waktunya udah mepet. Mau ganti talent juga bukan pilihan yang bagus. Jadi mau nggak mau harus tetap lanjut shooting

Point kedua yang harus diperhatikan kalo mau jadi sutradara adalah reading. Jadi jangan bawa talent ke lokasi tanpa reading naskah sama sekali. Yha kalo talentnya udah berpengalaman mungkin nggak apa-apa, tapi untuk yang pertama kali, jangan coba-coba! Jangan pernah menyepelekan reading tcuy.

Itu baru satu, kendala yang lainnya yaitu, saya sebagai sutradara nggak begitu paham soal lighting. Tau sih beberapa tapi nggak jago. Jadi seorang sutradara harus paham mise en scene, harus paham apa yang nampak di kamera, mulai dari angle kamera hingga penataan ruang. Walaupun ada divisi masing-masing, tapi karena sutradara adalah kepala, maka harus paham!

Point ketiga: Sutradara harus menguasai mise and scene!

Sebagai sutradara, kita juga nggak boleh lupa sama panutan kita, yaitu skrip. Kayak hari kedua pas kami syuting, naskah ditinggal karena sudah hafal di luar kepala, tapi itu nggak boleh sama sekali. Naskah harus ada di tangan! #Biargadimarahinfania

Kalo kita sebagai sutradara pelupa, kita bisa nyatet lho apa aja yang dibawa. Kayak Kika, karena dia super duper pwiiiiikuuun dia nyatet apa aja yang dibawa di hari kedua, tapi tetep, ada aja yang dua lupakan. Haha.

Beberapa hal di atas tadi sengaja saya tulis di blog buat bahan pembelajaran nanti kalo ada kesempatan jadi sutradara lagi. Tapi kalo dalam waktu dekat, kayaknya nggak dulu deh, saya harus banyak belajar lagi dari DOP panutan q dan yang lainnya. Kalo ilmunya udah banyak, baru deh nanti siap meluncur lagi!

Kalo disuruh milih mau jadi apa, aku mau jadi scripwriter aja kayak praktikum pertama dulu. Saya yang nulis, biar sutradara yang memvisualkan. Hehe. Ya, nulis skrip sebenarnya juga nggak gampang, apalagi nyari buku-buku tentang penulisan skenario, sulit.

Walaupun terkesan banyak melakukan kesalahan, tapi untungnya saja, crew-crew yang lain bisa membantu dan membuat syuting waktu itu berjalan lancar. HOLA! Ya, emang syuting itu kerja tim bukan kerja individu.

Sebenarnya tugas sutradara nggak cuma pra dan saat produksi, tapi saat pasca juga, yaitu pas editiing. Tugas sutradara mendampingi editor memilih gambar mana yang akan dipakai nantinya, dan atau apakah editingnya sudah sesuai atau nggak.

Saya seneng bisa dipercaya jadi sutradara, punya pengalaman dan ilmu baru yang bisa dipakai nantinya. Mungkin bisa dijadikan buku juga ya, pengalaman selama kuliah ini, soalnya bwaaanyak banget pengalaman yang nggak banyak orang bisa jalanin. 

Adakah penerbit yang ingin disenggol? Jangan nerbitin tulisan dari wattpad doang dong, sesekali balik ke blog sini, wkwk.

***

Kayaknya ada beberapa yang kelewatan, tapi segitu dulu deh postingan kali ini, udah lama nggak ngeblog jadi kaku, hehe. Semoga ada yang baca sampai seleasi. Enjoy.

Kalo mau nonton, gimana proses syutingnya kemarin, bisa cari aja channel youtubenya sawang sinawang films atau tonton video di bawah ini. Kalo mau tau apdet-apdet kita gimana, bisa juga lho follow instagramnya @Sawangsinawangfilms





PS: Postingan ini dibuat sebagai bahan menjilat biar diajakin praktikum AV 3 Nanti, semoga berhasil.



You Might Also Like

4 comments

  1. Kamu mending sering2 baca blogku deh biar tulisanmu ngga kaku. *kibaskibasrambut*

    ReplyDelete
  2. Kenapa ngebaca ini aku jadi ingat sama salah satu peserta audisi biskuat yang sampe audisi 3 kali itu ya? Jadi sutradara, jadi penulis naskah, sama jadi aktornya juga. Wk.

    Btw, industri kreatif emang lagi puncak-puncaknya berkembang ya sekarang. Semangat! Semoga diajakin buat praktikum av 3 nanti~

    ReplyDelete
  3. ITU KENAPA PAS NGOMONG "HEPI BERSDEY" NYENGIR-NYENGIR YAAAA? :)))
    Congrats Rul! Semoga kliennya suka sama hasilnya! Horeeee!

    ReplyDelete
  4. Asik banget, ajarin bikin script dong qaaaq.

    ReplyDelete

Kalo kamu anggep tulisan aku penting buat kehidupan kamu, kamu bisa follow blog ini kok, kamu juga bisa koment, terserah kamu deh, yang penting kamu seneng.