Review Film : #CTSmovie Bikin Tumpeh

January 04, 2017


Selain curhat, kayaknya di blog ini saya bakal sesekali review film deh. Alasan kenapa saya mau review film bakal saya jelasin di postingan berikutnya. Yha walaupun nggak penting saya bakal tetep jelasin.


….

Saya masih belajar gimana caranya review film yang benar dengan baca-baca review film dari akun-akun film yang udah terkenal di twitter. Saya bakal tulis apa yang saya tonton dan dengar, jadi semoga reviewnya nggak ada spoiller ya. Semoga reviewnya juga tetep berimbang. Hehe.

Beberapa hari sebelum Cek Toko Sebelah tayang, saya dapet kesempatan buat nonton lebih dulu dibanding yang lain.

24 Desember 2016. Saya dan Qolbu, salah satu teman memutuskan untuk nonton #CTSmovie setelah beberapa hari sebelumnya saya liat di Instagramnya Ernest kalo Malang adalah salah satu kota yang kebagian nonton #CTSmovie lebih awal daripada yang lain.

Sekitar pukul 9 pagi, saya sudah duduk manis di depan studio Dinoyo Cineplex. Saya menunggu dengan beberapa orang yang ingin menonton juga (dugaan saya, waktu itu mereka mau nonton Hangout). Saya juga nonton Hangout waktu itu, mau ngebandingin mana yang lebih bagus aja sebenernya hehe.

Saya dan Qolbu hitungannya telat sih dapet tiket #CTSmovie, jadinya kami kebagian kursi paling depan pas nonton, tapi nggak apa-apa yang penting punya hak ekslusif nonton lebih dulu.

Keluar dari bioskop, saya memutuskan untuk nonton lagi. Akhirnya kejadian juga, saya nonton lagi pada 3 januari 2017. Kali ini saya nonton sama Qolbu (lagi). Keluar dari bioskop tangan saya pengin banget buat nulis review #CTSmovie ini, sumpah saya suka banget sama filmnya.

Sama seperti film Ernest sebelumnya (Ngenest, 2015) Cek Toko Sebelah juga masih menceritakan keresahan seorang Ernest, yang mana di film ini Ernest menceritakan keresahannya kalo keturunan Tionghoa itu nggak harus jadi pedang.

Menurut saya naskah #CTSmovie ini ditulis dengan sangat matang, jalan ceritanya, komedinya, drama, saling melengkapi. #CTSmovie ini sebenarnya memiliki jalan cerita yang mainstream yaitu menggunakan jalan cerita tiga babak. Awal (pengenalan karakter) - konflik dan konklusi (bagaimana konflik itu diselesaikan) apakah akan berakhir happy atau sad ending.

Dalam film ini porsi pengenalan karakternya memakan waktu lebih banyak daripada bagian lainnya. Shot per shot, scene per scene dirangkai dengan mulus untuk memperkenalkan para tokoh utama dan beberapa tokoh pembantu.

Scene – scene awal memperkenalkan koh Afuk (Chew Kin Wah) sebagai pemilik toko dan beberapa pegawainya, seperti Kuncoro (Dodit), Ojan (Awwe) dkk. Kemudian scene-scene berikutnya secara bergantian menampilkan bagaimana kehidupan para tokoh. Mulai dari kehidupan Yohan (Dion Wiyoko) dan Ayu (Adinia Wirasti) sebagai pasangan suami istri kemudian dilanjutkan memperkenalkna tokoh Erwin (Ernest) yang memilki karir cemerlang bersama pacarnya Natalie (Gisel). Pengenalan tokoh ini berjalan dengan mulus hingga menuju konflik.

Perjalanan menuju konflik ini diberikan bumbu-bumbu komedi yang pas, sesekali dengan beberapa drama antar karakter.

Konflik mulai dibangun ketika koh Afuk jatuh pingsan dan harus dirawat di rumah sakit. Karena mengetahui kondisinya yang sudah tidak cukup sehat, maka Koh Afuk meminta Erwin, anak keduanya untuk menjaga toko. Di sini sebenarnya Erwin harus perang batin karena dia tidak ingin menyia-nyiakan karirnya yang sedang melesat. Selain itu, kekasih Erwin juga tidak ingin melihat kekasihnya menjaga toko Gaya Baru, namun setelah diberikan beberapa syarat, Erwin mau training untuk menjaga toko.

Di lain sisi, Yohan sebagai anak pertama merasa diabaikan oleh ayahnya karena sebagai anak pertama dia tidak dipercaya sebagai penerus toko kelontong itu.

Dari sana konflik “kecil-kecilan” mulai dibangun pelan-pelan. Konflik mulai dibangun ketika Yohan dan Ayu berkunjung ke makam almarhum ibunya, hingga scene per scene konflik setiap karakter disusun secara rapi hingga konflik kecil-kecilan itu menumpuk dan menciptakan konflik utama.

Momen yang paling saya ingat adalah ketika koh Afuk bersandar di salah satu tiang tokonya. Dia melihat sekeliling, membuat ingatan-ingatan masa lalunya menguap kembali. Hingga akhirnya dia tersungkur lemah dengan air muka yang penuh arti luka dan keterpurukan.

Momen itu merupakan salah satu scene yang membuat saya bercucuran air mata karena relatable banget sama kehidupan saya. Saya jadi inget toko kelontong di rumah. Saya jadi inget dulu saya sering nggak mau kalo disuruh jaga toko. Ditambah lagi dengan backsound yang sangat pas. Air mata saya jadi ngebanjirin satu studio. Yha nggak deng.

Karakter Ayu menjadi karakter favorit saya (selain koh Afuk tentunya) karakter Ayu berhasil diperankan Adinia Wirasti dengan sangat baik. Karakter yang penyabar dan pemikir ini berhasil membuat saya jatuh cinta (berharap punya pacar kayak Ayu) dia berhasil menjadi busa untuk karakter Yohan.

Resep komedi yang digunakan sangat sten ap banget. Mulai dari set-up punchline, act out hingga callback.

Penyusunan materi komedinya juga sangat tepat, salah satu scene favorit saya adalah scene-scenenya Asri Welas dan beberapa dialog yang diciptakan untuk karakter Kuncoro. Selain itu tek-tokan Ajis dan Awwe selalu membuat saya ketawa. Apalagi act-out saat mereka ngeledek Kuncoro.

Sangat-sangat tidak menyesal menonton Cek Toko Sebelah dua kali. Sangat recommended. (4/5).

Setelah menonton Cek Toko Sebelah dua kali, saya menemukan beberapa kesalahan-kesalahan kecil di mise en scene.

Pertama, entah sengaja atau nggak, saat dialog antara Anyun dan Arafah di depan toko Gaya Baru, dialognya Anyun kayak tersendat gitu, tapi nggak begitu kedengeran karena cepet banget, saat itu Arafah juga langsung nyeletuk, jadi bener-bener nggak begitu kedengeran kalo Anyun salah.

Ada beberapa adegan yang nggak continuity antara shot yang satu dengan shot yang lainnya, salah satunya ketika Dodit lagi dialog sama Arafah. Pas shot (over shoulder, kalo nggak salah) Dodit ngeliat lurus ke Arafah, tapi pas long shot Dodit malah ndongak.

Kalo sound sebenernya nggak ada masalah, tapi kayaknya ada beberapa yang dubbing. Ya nggak sih Nest? agak jumping aja gitu suara ernest di dialog A sama di dialog B. atau emang disengaja. Kalo saya salah mohon dibenarkan.

Kalo ini sih kayaknya masalah personal deh, saya nggak terlalu suka sama aktingnya yang jualan ketoprak. Masih keliatan kaku banget. Mungkin karena #CTSmovie adalah film pertamanya kali ya.

Kesalahan kecil yang lain adalah ketika scene di Resepsionis. Pas resepsionisnya main hape, posisi gambarnya berubah. Perubahan posisi gambranya itu cuma beberapa melimeter gitu tapi kalo diperhatiin ganggu banget.

Saya curiga Ernest nggak punya stok gambar lagi jadinya pilih yang itu, atau pas syuting kameranya gak sengaja kesenggol atau pas editing nggak sengaja kepotong terus posisinya berubah hehe.
Seinget saya, cuma ada satu jokes yang nggak kena ke saya. pas dialog dokter sama Ayu, lagi-lagi mungkin itu sengaja, mau nunjukin karakter dokternya yang Jayus.

Oh ya, sama satu lagi. Product placementnya masih kasar banget. Hehe.

Beberapa "luka kecil" itu nggak mengurangi esensi dari filmnya. Cek Toko Sebelah menjadi salah satu film yang bakal masuk list film terbaik yang pernah saya tonton. Semoga film-film Ernest selalu jadi lebih baik lagi. Saya akan tunggu film selanjutnya, Koh!

***

Gimana menurut kalian review film saya yang pertama ini? jelek atau biasa-biasa aja?

Kalo ada yang salah sama review saya, tulis komentar aja di bawah, nanti kita diskusi bareng-bareng masalah film hehe. Atau sebenernya ada yang kurang dari review ini? yhaa jangan lupa komentar ya kurangnya di mana.






You Might Also Like

10 comments

  1. Saya blom nton nih bang
    Jadi enaknya gimana?
    Itu pas bercuuran airmata sampe banjir g?

    ReplyDelete
  2. Lumayan dapat di pahami lah reviewnya :)

    ReplyDelete
  3. Belom nyoba buat nonton pilem Indo sih. Soale gabisa streaming. Hehehehe

    ReplyDelete
  4. Mnurut saya sih reviewnya udah lumayan Rul. Detail dan spertinya wawasan kmu tntang film dan teknik pmbuatan film juga cukup luas. Itu yg cukup mndukung kmu buat ngereview film.

    Stelah baca tulisan ini saya malah jadi tmbah penasaran nontn film CTS. Kemarin cuman smpet nonton Hangout sih. Dn film Hngout itu nggk terlalu memenuhi ekspektasi saya.

    Jdi stelah mmbandingkan film Hangout dan CTS, film mana yg lebih bagus mnurut kamu Rul?

    ReplyDelete
  5. belum nonton filmnya bang -___- tapi overall enak kok dibaca. ane faham sama alur ceritanya.

    ReplyDelete
  6. Paham banget deh lu sama teknis pembuatan film, Rul. Bahkan, hal-hal kecil kayak posisi Dodit aja dibahas. Dan ya, placement yang menurut lu kasar itu ganggu. Mantap! Sering-sering aja review begini. Sayang, gue udah kebanyakan di-spoiler. Jadi, kayaknya bingung mau nonton apa nggak deh. :))

    ReplyDelete
  7. Aduh ngak sabar nunggu bulan depan tayangdi Layar SCTV ... semoga waktunya passss

    ReplyDelete
  8. Ini komen mascum. :)))

    Belum sempet nonton nih. Kalo dari abis baca ini tuh feelnya berarti mirip2 kayak Sabtu Bersama Bapak gitu bukan sih, Rul?

    ReplyDelete
  9. Aaaaakh, aku sukaaak CTS :D hihihi belum ngebandingin sama Hangout sih aku rul. Cuma ya gitu, aku jadi kayak gimana gitu sama karya Radit setelah nonton Koala Kumal. Errrr... belum bener-bener nonton, tapi aku udah kayak ngejudge : 'Kayaknya bagusan CTS deh' mari kita lihat kalau hangout udah ada bajakannya *lah wkwk

    ReplyDelete
  10. Sampe sekarang belum sempat nonton ini film. Penasaran banget aku.. Baca setidaknya tahu mskpun pengennya nonton filmnya :)

    ReplyDelete

Kalo kamu anggep tulisan aku penting buat kehidupan kamu, kamu bisa follow blog ini kok, kamu juga bisa koment, terserah kamu deh, yang penting kamu seneng.