Pindah ke Kursi Depan

09:00:00

Untuk melanjutkan perjalanan dari Bandara Juanda menuju Malang atau arah sebaliknya, biasanya saya memesan travel. Cuma sekali saya pernah coba pakai Bus, itupun berdua sama teman. Kalo sendiri mending naik yang gampang dan terpercaya aja, deh. Biar nggak salah-salah nantinya. Nanti kalo nekat malah nyasar ke Merauke.


Sebelum kembali ke Malang, seperti biasa saya memesan travel dulu dari rumah. Saya lebih percaya dengan cara seperti itu. Saya pernah ketika ingin menuju  Malang dari Bandara Juanda sok-sokan mencari travel di Bandara. Hasilnya karena kepikunan saya, tas ransel saya ketinggalan di mobil, barang-barang berharga hilang, mulai dari buku sampai laptop. Mau menghubungi sopir atau agen travelnya, saya nggak punya nomernya.

Baca juga: Pikun Aing Mah!

Sekitar beberapa menit menunggu koper di ban berjalan, saya langsung ke tempat yang telah ditunjukkan si sopir beberapa menit sebelumnya.

“Halo mas, saya sudah di depan gerai donat, posisi mas di mana ya?” tanya saya melalui telepon

“Mas, coba liat ke kiri, saya yang dadah-dadah itu” terdengar jelas suara medok khas Jawanya.

Saya langsung menoleh ke kiri dan melihat mas-mas yang memakai topi. hem kotak-kotak dan celana jeans lusuh. Saya mematikan panggilan telepon, langsung menghampiri mas-mas  tersebut.

“Tunggu di sini ya mas”

Saya hanya mengangguk sambil terus memainkan hape. Masnya entah pergi ke mana. Walaupun sok-sok sibuk, saya masih kepikiran nasib STNK yang saya bawa ini. 

Yang belum baca cerita STNK motor saya, bisa baca postingan sebelumnya.

Postingan Sebelumnya: Pikun Aing Mah! 

Berselang beberapa menit, mas-mas tersebut kembali dengan tiga orang yang mengikutinya dari belakang. Seorang lelaki dengan rambut berwarna putih. Dari rambutnya saya mengira dia sudah berusia 50 tahun ke atas, dia memakai baju hijau mint. Dua lainnya adalah cewek, satunya memakai baju biru dongker dengan rambut di cepol, satunya lagi memakai baju putih bermotif bunga-bunga. Saya nggak bisa melihat rambutnya karena dia nggak punya kepala menggunakan hijab.

“Yaudah kalian masuk aja dulu, masih satu penumpang lain lagi yang belum datang” kata pak sopir. Ternyata sopirnya bukan mas-mas tadi.

Saya pun langsung naik ke mobil dan memilih kursi paling belakang bagian kanan untuk duduk, tujuannya biar bisa senderan. Di belakang, pak sopirnya sibuk menaikan koper dan tas para penumpang.

Semua penumpang sudah naik, bapak beruban putih memilih tempat duduk di kursi dekat sopir, dua perempuan tadi duduk di bagian tengah. Otomatis kursi sebelah kiri saya kosong. Nggak ada yang mau duduk sama saya, sedih.

Melihat kursi kosong tersebut, saya langsung berharap semoga penumpang sebelah saya ini seorang cewek cantik.

Saya masih memandang ke luar menghadap bandara memikirkan STNK, sambil menunggu siapa penumpang terakhir yang beruntung duduk di sebelah saya. Berselang beberapa detik, muncul seorang cewek mengikuti pak sopir dari belakang. Saat dia berjalan, nggak sengaja, mata kami bertemu. Saya awkward. Dia memakai baju merah biru dan celana jeans biru tua. Rambut kecoklatannya dibarkan terurai ke belakang, matanya sipit dan ada kumis tipis di atas bibir mungilnya.

YA TUHAN, DIA CANTIK BANGET. Tatapannya membuat saya melupakan STNK yang kebawa.

Dari sorot matanya tadi, dia seperti melihat saya sebagai ancaman. “Kalo kamu berani ganggu saya, kamu nggak akan bisa naik travel lagi”

Cewek tadi masuk ke dalam mobil membawa koper dan tas punggungnya masuk, barang-barang bawaannya sudah nggak cukup lagi ditaruh di bagasi belakang. Saat dia memasukkan kaki kanannya ke mobil, saya menunjukan gesture yang salah.

Saya meminggirkan barang-barang saya agar nggak mengganggu duduknya nanti. Saya masih takut dengan tatapannya tadi.

Melihat mobil sudah penuh dengan penumpang dan barang bawaan, si sopir langsung memacu mobilnya lumayan cepat. Di dalam mobil terjadi hening cukup lama, hanya suara mobil yang bisa di dengar. Mengetahui suasana aneh tersebut, si sopir langsung memutar radio. Karena topik di radio tersebut, si bapak beruban berbincang dengan si sopir. Sedangkan tiga penumpangnya di belakang, seperti orang bisu.

Saya sesekali melihat cewek tersebut dari ujung mata. Dia sibuk dengan hapenya. Sesekali dia melihat ke luar jendela. Sebenarnya saya ingin sekali berkenalan dengan cewek itu, tapi nyali saya belum cukup. Dengan tampang saya ini, saya takut saat menyodorkan tangan untuk kenalan, saya malah disangka Uya Kuya KW super.

Nggak beberapa lama, pikiran-pikiran saya yang sedang memikirkan bagaimana cara berkenalan yang baik buyar karena dia menerima telepon dari entah siapa. Bisa jadi dari orang tua, teman, atau mungkin saja pacar. Memikirkan kemungkinan itu, saya jadi semakin takut untuk kenalan.

Selesai teleponan, dia mengambil penutup mata dari dalam tas ranselnya. Dia ingin tidur. Sambil curi-curi pandang, saya sibuk memasang earphone ke hape untuk pura-pura mendengarkan musik. Saat dia sudah menutup matanya, saya beberapa kali memperhatikannya. Sumpah dia cantik banget.

Melihat posisinya tidur, kepalanya sedikit jatuh ke arah saya, tangan kanannya secara nggak sadar bergerak beberapa kali, hingga kali ini, tangannya persis di sebelah saya. Saya deg-degan.

Mengetahui ada kesempatan, selain pura-pura mendengarkan lagu, saya memutuskan untuk pura-pura tidur. Saya tiduran memiringkan kepala ke arahnya, tangan saya, sengaja saya dekatkan dengan tangannya. Siapa tahu karena jalanan bergelombang atau ada polisi tidur, kepalanya tiba-tiba jatuh ke pundak saya, atau tangan kami bisa berpegangan. Dengan begitu, pastinya dia akan meminta maaf, dari hanya sekedar permintaan maaf, kami bisa jadi ngobrol panjang lebar.

Sungguh rencana lelaki berhidung belang.

Pikiran-pikiran nggak masuk akal itu langsung hilang ketika salah satu penumpang ingin turun. Ternyata penumpang yang akan turun adalah bapak ubanan berbaju hijau mint. Dia turun di sebuah restoran di daerah Lawang. Katanya dia sengaja turun di sana untuk bertemu dengan keluarganya.

Karena mobil berhenti, cewek yang ada di sebelah saya tiba-tiba terbangun. Dari sinilah petaka di mulai. Melihat kursi di sebelahnya kosong, si sopir langsung bertanya ke seluruh penumpang “Ada yang mau pindah duduk ke depan?”

Sempat beberapa saat hening, tiba-tiba cewek di sebelah saya menjawab iya.

Saya merasa gagal. 

Dia merapikan tempat duduknya, menggeser sedikit posisi kopernya, membuka tas ranselnya dan memasukkan penutup matanya yang tadi ke dalam tas. Sebelum pindah ke depan, cewek itu meminta izin ke saya.

“Saya pindah ke depan ya, nggak apa-apa kan?” tanyanya dengan sopan. Mungkin dia minta izin karena nggak enak ke saya. Suaranya sangat lembut, membuat siapa saja yang mendengarnya jadi hor.... mat.

“Iya mbak, silakan” jawab saya sedikit kecewa.

Dari posisi saya duduk, saya hanya bisa melihat punggung dan rambut terurainya, sesekali saya melihat senyum manisnya ketika dia sedang berpaling ke arah sopir yang mengajaknya ngobrol. Mereka terlihat berbincang asik sekali. Seandainya saja saya yang berada di posisi pak sopir, mungkin saya akan menjadi manusia paling bahagia di dunia waktu itu.

Tiba-tiba lagu Vieratale yang berjudul Seandainya mengringi kecemburuan saya kepada pak sopir

Seandainya kau tau ku tak ingin kau pergi~
Meninggalkanku sendiri bersama bayanganku~

Kecewa dan kecemburuan saya sedikit terobati karena dari posisi dia sekarang, saya bebas melihat senyumnya tanpa ketahuan.

Saya sesekali melihat ke kursi tempat cewek itu duduk tadi, hanya tersisa ransel gunung yang bersender di kursi, saya melihat ke luar jendela. Pohon-pohon bergerak dengan cepat. Pikiran saya dipenuhi oleh kata, seandainya.

Seandainya saya bisa ngobrol tadi, mungkin saya bakal bisa dapet nomor teleponnya.

Seandainya saya bisa ngobrol tadi, mungkin kami sudah follow-followan di instagram.

Seandainya saya bisa ngobrol tadi, mungkin kami sudah ijab kabul sekarang…

Seandainya kau tau aku 'kan selalu cinta~
Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini~

Pandangan saya beralih ke koper cewek tersebut. Saya memperhatikan setiap detail yang ada di sana. Di koper tersebut ada sebuah kartu hotel, mungkin dia sering menginap di sana.  Di setiap retsleting koper, ada sebuah gembok kecil, saya pikir cewek tersebut adalah orang yang sangat berhati-hati. Di beberapa sudut koper, ada stiker yang bertuliskan Bandara Internasional Supadio.

Karena penasaran, saya langsung mencari nama bandara tersebut di google. Bandara tersebut ada di Pontianak, Kalimantan Barat.

Kata seandainya muncul lagi di kepala saya.

Seandainya pikiran untuk mencari nama bandara itu muncul sebelum cewek itu pindah ke kursi depan, mungkin sekarang kami sudah ngobrol panjang lebar tentang berbagai macam topik, yang dimulai dari sebuah pertanyaan.

“Umm, mbak dari Pontianak ya?”

“Kamu kok tau?”

“Iya saya liat koper itu ada stiker bandara Supadio, barusan saya cari di google bandara Supadio itu ada di mana, mbak. Hehe”

Kemudian obrolan itu akan berlanjut ke berbagai arah, dia pasti akan menanyakan saya dari mana. Setelah pertanyaan itu, akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain seperti kuliah di mana, jurusan apa, semester berapa, punya titit berapa.

Seandainya topiknya habis, saya akan memberi tahu dia kalo saya punya seorang teman dari Pontianak juga. Dari sana, mungkin saja akan menjalar ke beberapa pertanyaan lagi, seperti kamu alumni mana, ikut ekstrakulikuler apa dan mungkin ke obrolan-obrolan ringan lainnya.

Saya melihat cewek itu lagi, dia masih sibuk ngobrol dengan si supir. Senyumnya
mengembang.

“Seandainya” gumam saya pelan.

Kelak kau 'kan menjalani hidupmu sendiri~
Melukai kenangan yang telah kita lalui~
Kamu akan terbang jauh menembus awan~
Memulai kisah baru tanpa diriku~
Selama ini~
Selama ini~

***

Saya adalah orang pertama yang diantarkan menuju tempat tujuan, padahal saya berharap sekali, saya diantar setelah cewek tadi itu, biar saya tau dimana dia tinggal. Saya diam melihat mobil putih itu melaju pelan. Meninggalkan seribu penyesalan.

Saat menulis ini, saya juga berharap kalo cewek tadi penasaran juga dengan saya, kemudian dia ingat dengan kontrakan saya, tanpa disangka di sore hari yang cerah, dia tiba-tiba ada di depan kamar saya.

Seandainya…

***

Maaf ya, tulisannya panjang banget, hehe. Semoga nggak bosen baca sampai akhir.

Tulisan ini terinspirasi dari bab Salam Kenal dalam buku kedua dari Tirta Prayudha yang berjudul Romeo Gadungan. Seandainya saja saya membeli buku itu terlebih dahulu, mungkin saya akan punya keberanian untuk mengajaknya kenalan. Ya mungkin saja saya akan bernasib seperti Tirta atau bernasib seperti  Pepeng. Nggak ada yang tau, kalo nggak dicoba.


Lebih baik bernasib seperti Pepeng dari pada hanya mendapat jawaban seandainya.

Seandainya kau tau ku tak ingin kau pergi~
Meninggalkanku sendiri bersama bayanganku~
Seandainya kau tau aku 'kan selalu cinta~
Jangan kau lupakan kenangan kita selama ini~



WOY! INI NGAPAIN SIH VIERATALE IKUT-IKUTAN?!

You Might Also Like

6 Komentar

  1. Hahahh, di dlm mobil si vierratalenya duduk diman rul? daritadi nyanyi mulu, kyaknya dia juga ikutan turun wktu smpai drumahmu.

    Ini juga yg gw rasain kemarin....rasa penyesalan....cuman gw mnyesal krna mngacuhkan prempuan yg rela mmberikan sekgalanya pada saya....

    Seandainya ya rull......Emng perempuan itu suka bikin Hor.....mat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, coba punya kesempatan sekali lagi, pasti nggak disia-saiakan. Yha, penyesalah emang selalu datang terlambat.

      Delete
  2. YA AMPUN KA ARUL TERNYATA AKU KIRA INI BLOGNYA SIAPA. He-he-he

    Cinta kilat ya. Hmmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu emang jahat Ti, nggak tau blogku :")

      Delete
  3. Nyanyi mulu.. Pacarannya kapan? Eh :v

    ReplyDelete

Kalo kamu anggep tulisan aku penting buat kehidupan kamu, kamu bisa follow blog ini kok, kamu juga bisa koment, terserah kamu deh, yang penting kamu seneng.